Rabu, 26 November 2014

cerpen bhs indonesia



Apakah Aku Seperti Hantu?

Ada seorang temanku yang bertanya kepadaku, “Apakah kamu belum pernah pacaran?”. Saat itu aku hanya membalas dengan senyuman yang membuat gigiku kering. Akupun langsung kembali ke mejaku dan langsung mengambil air mineral lalu meminumnya, tapi tak ku sangka temanku akan menanyakan hal yang dapat membuatku tersedak. Bayangkan ! dia bertanya padaku, “Apakah kamu normal ?”
“Apa ! ya jelas aku ini normal ! aku juga suka dengan pria tampan, tapi hanya dengan pria tampan !karena seleraku tinggi!”ucapku. taukah anda bagaimana perasaanku saat mendengar pertanyaan temanku itu? Rasanya bagaikan tersambar petir di siang bolong !sakitnya tuh disini, tepat dalam hatiku.akupun langsung menghampiri temanku dan duduk disampingnya, lalu kuceritakan kisah cinta pertamaku pada seseorang , seseorang itu bernama dimas .
Seperti biasa, aku selalu berangkat lebih awal di saat ujian sekolah sedang berlangsung. Ada dua sebab aku berangkat lebih awal. Pertama, karena aku harus mencari kelas yang membutuhkan waktu yang lama. Dan yang kedua, karena aku lebih fokus belajar di sekolah daripada di rumah.
Sesampainya di kelas, akupun langsung mencari meja yang mempunyai nomer yang sama pada kartu ujianku, dan ternyata aku duduk tepat di samping pria yang masuk dalam kategori 10 besar pria tertampan di sekolahku. Dia mempunyai kulit yang putih dengan gaya potongan rambut cepak, dan dia juga memakai kacamata yang membuatnya terlihat lebih pandai. Jika kita lihat gayanya seperti Takeru Satoh saat menjadi Urasimataro. Ya pria itu adalah Dimas.  
Baru saja aku duduk di sampingnya, tiba-tiba dia langsung mengendus-endus seperti mencium sesuatu dan menoleh ke arahku lalu pergi ke luar kelas. Kau tau tatapan matanya sangat tajam hingga membuat setiap wanita yang melihatnya meleleh, “tapi dia tadi mencium apa ya? “ gumamku dalam hati. Ku coba mengendus-endus juga namun tak ada bau mie, bakso, otak-otak juga bukan! “walah, jangan-jangan bau ketek ku!”pekikku karena menemukan asal bau itu. Tapi tak separah seperti biasanya karena aku memakai minyak wangi. he he
Cinta dapat datang kapan dan dimana saja, termasuk saat sedang ujian, awalnya aku tak acuh  pada laki-laki yang berada di sampingku, hingga saat isi pulpenku habis tiba- tiba dia mengulurkan tangannya dan memberikan satu-satunya pulpen yang ia miliki, sejak saat itu aku mulai menyukainya, dan aksi penguntitan pun di mulai, mula – mula aku hanya mempehatikan dia dari balik jendela kelas, di bawah sinar mentari dia asyik berlari mengelilingi lapangan sekolah, rambutnya yang tertiup oleh angin menambah sejuk pemandangan yang terlihat di mataku. Hingga suatu hari, seorang temanku sebut saja Peri Palsu, dia melihat kemana arah pandanganku dan mengetahui bahwa aku menyukai pria itu. Dan dia pun mengatakan pada Dimas.   
Saat pulang sekolah, tak sengaja aku melihat dia yang berada di lantai 2 sekolahku, seketika pandangan mataku tertuju padanya, sambil berjalan akupun terus memandanginya. terdengar suara seseorang berteriak yang membuyarkan perhatianku pada Dimas, dan akupun menoleh, sebuah tiang bendera besar yang berdiri sejak lama berada tepat dihadapanku, alhasil, tabrakkan pun tak terelakkan. kepalaku serasa bola tenis yang terpukul dengan tongkat kayu. Kulihat tiang bendera yang aku tabrak berguncang dengan hebatnya dan meninggalkan bunyi mendengung yang membuat banyak orang tertuju kepadaku. Secepat kilat kututupi wajahku dengan tas dan berusaha berlari sekencang mungkin, meninggalkan tiang yang masih berdiri pada posisinya.
Dari kejauhan terdengar suara seseorang memanggilku seraya menghampiriku dan bertanya, “ Duwi, kepala kamu sakit gak?” ucapnya cemas.
“ooww, gak! Gak salah lagi! Jawabku sambil terus memegang keningku. Sebenarnya sakitnya tuh tak seberapa, tapi malunya itu yang membuat kepalaku jadi  nyut-nyutan . apalagi Dimas juga ikut menoleh saat tiang itu berguncang.
 Ke esokan harinya giliranku untuk mengabsen kelas-kelas lain, sampai tiba saatnya aku masuk ke kelas Dimas,akupun teringat perkataan peri palsu, dia berkata padaku bahwa dia telah memberi tahu perasaanku pada Dimas,saat ini kulihat dia duduk di bangku paling depan dan akupun melewatinya.
Walau ku coba melewatimu, kau tampak tidak tertarik
Kau  justru berpaling dan asyik berbicara dengan temanmu
Ayolah ! lihat ke arahku !
 Sampai aku keluar kelaspun dia tetap tak melihatku. Sedih rasanya tapi mungkin dia sedang sibuk.
Dari musim Durian sampai musim Rambutan diriku masih mengharapkannya. Akhirnya tiba saatnya untuk perpisahan. Aku  terus memandangi Dimas yang menjadi bintang acara dalam pepisahan sekolahku, dalam lamunan akhirnya ku dapat ide cemerlang, saat acara selesai akupun memohon pada teman ku, sebut saja Si Cantik. Aku memintanya untuk berfoto dengan Dimas, awalnya ku minta Si Cantik untuk membawakan HP miliku dan aku berpura-pura tak sengaja lewat, itulah rencanaku. saat aku lewat dia memanggilku dan memintaku untuk memotret mereka berdua, akupun meminta dimas untuk tersenyum, dan dia pun tersenyum sangat manis hingga rasanya aku tak dapat berpijak pada tanah, dan akupun memotret mereka berdua, saat ingin pergi tiba-tiba di luar rencana teman ku mengeluarkan HP miliknya seraya berkata “ tolong dong foto di HP ku juga” ucap Si Cantik sambil mengeluarkan HP dari saku bajunya. Seketika wajah Dimas pun terlihat kebingungan seakan bertanya “ lalu HP siapa yang tadi buat motret aku?”. Dengan menahan amarah akupun memotret untuk yang kedua kali, namun saat aku bilang untuk tersenyum terlihat jelas di wajah Dimas bahwa dia sangat kesal.  Tak hanya dia yang kesal sebenarnya aku juga, Si Cantik memang tak pandai berbohong, Rencana yang ku susun sedemikian rupa berantakan hanya karena Si Cantik mengeluarkan HP miliknya.
Saat pulang dari perpisahaan tak kusangka bus yang aku naiki berhenti bersebelahan dengan bus yang dinaiki oleh Dimas, aku pun langsung menoleh ke arah bus nya , ku lihat dia sedang asyik bercanda dengan temannya dengan wajah yang sangat bahagia, hingga saat dia menoleh ke arah bus ku, dan melihat aku yang sedang memandanginya dengan seketika dia pun kembali menoleh ke arah temannya dan saat itu juga tiba-tiba gordyn penutup jendela busnya pun langsung tertutup hingga wajahnya tak dapat ku lihat lagi.”siapa sih yang berani-beraninya mennutup gordyn itu!” ucapku kesal, tapi setelah aku berpikir lagi mungkin Dimas lah yang menutup gordyn bus itu. Sebenarnya ku tahu benar bahwa dia tak suka padaku, namun melihatnya selalu takut padaku adalah hiburan tersendiri bagiku, jika dipikir –pikir aku seperti lagu om sule,” gak punya taring, gak punya cakar, loh kok takut”

Semenjak kejadian itu aku pernah beberapa kali bertemu dengan Dimas, namun dia selalu pergi dan lari saat berjumpa dengan ku, hingga pernah beberapa kali aku bepikir “apakah aku sepeti hantu?sampai dia takut saat melihatku?” tanyaku pada diri sendiri.
 Pernah ada yang berkata bahwa jika kita menyukai seseorang katakanlah sebelum kita menyesal, namun kata – kata itu tak berlaku untukku, bagaimana bisa kita ungkapkan perasaan kita, jika melihat kita saja orang itu sudah takut. Menurutku solusi yang tepat adalah jangan pernah mengharapkan lebih pada seseorang, seperti kata – kata di komik kesayanganku:  

 jika tak mengharapkan, maka tak kan merasa tersakiti”.

 Itulah pilihan yang bijak bagi cinta yang tak terbalas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar