Apakah Aku Seperti Hantu?
Ada seorang temanku yang bertanya
kepadaku, “Apakah kamu belum pernah pacaran?”. Saat itu aku hanya membalas
dengan senyuman yang membuat gigiku kering. Akupun langsung kembali ke mejaku
dan langsung mengambil air mineral lalu meminumnya, tapi tak ku sangka temanku
akan menanyakan hal yang dapat membuatku tersedak. Bayangkan ! dia bertanya
padaku, “Apakah kamu normal ?”
“Apa ! ya jelas aku ini normal ! aku
juga suka dengan pria tampan, tapi hanya dengan pria tampan !karena seleraku
tinggi!”ucapku. taukah anda bagaimana perasaanku saat mendengar pertanyaan
temanku itu? Rasanya bagaikan tersambar petir di siang bolong !sakitnya tuh
disini, tepat dalam hatiku.akupun langsung menghampiri temanku dan duduk
disampingnya, lalu kuceritakan kisah cinta pertamaku pada seseorang , seseorang
itu bernama dimas .
Seperti biasa, aku selalu berangkat
lebih awal di saat ujian sekolah sedang berlangsung. Ada dua sebab aku
berangkat lebih awal. Pertama, karena aku harus mencari kelas yang membutuhkan
waktu yang lama. Dan yang kedua, karena aku lebih fokus belajar di sekolah
daripada di rumah.
Sesampainya
di kelas, akupun langsung mencari meja yang mempunyai nomer yang sama pada
kartu ujianku, dan ternyata aku duduk tepat di samping pria yang masuk dalam
kategori 10 besar pria tertampan di sekolahku. Dia mempunyai kulit yang putih
dengan gaya potongan rambut cepak, dan dia juga memakai kacamata yang
membuatnya terlihat lebih pandai. Jika kita lihat gayanya seperti Takeru Satoh
saat menjadi Urasimataro. Ya pria itu adalah Dimas.
Baru saja aku duduk di sampingnya,
tiba-tiba dia langsung mengendus-endus seperti mencium sesuatu dan menoleh ke
arahku lalu pergi ke luar kelas. Kau tau tatapan matanya sangat tajam hingga
membuat setiap wanita yang melihatnya meleleh, “tapi dia tadi mencium apa ya? “
gumamku dalam hati. Ku coba mengendus-endus juga namun tak ada bau mie, bakso,
otak-otak juga bukan! “walah, jangan-jangan
bau ketek ku!”pekikku karena menemukan asal bau itu. Tapi tak separah seperti
biasanya karena aku memakai minyak wangi. he he
Cinta dapat datang kapan dan dimana
saja, termasuk saat sedang ujian, awalnya aku tak acuh pada laki-laki yang berada di sampingku,
hingga saat isi pulpenku habis tiba- tiba dia mengulurkan tangannya dan
memberikan satu-satunya pulpen yang ia miliki, sejak saat itu aku mulai
menyukainya, dan aksi penguntitan pun di mulai, mula – mula aku hanya
mempehatikan dia dari balik jendela kelas, di bawah sinar mentari dia asyik
berlari mengelilingi lapangan sekolah, rambutnya yang tertiup oleh angin
menambah sejuk pemandangan yang terlihat di mataku. Hingga suatu hari, seorang
temanku sebut saja Peri Palsu, dia melihat kemana arah pandanganku dan
mengetahui bahwa aku menyukai pria itu. Dan dia pun mengatakan pada Dimas.
Saat pulang sekolah, tak sengaja aku
melihat dia yang berada di lantai 2 sekolahku, seketika pandangan mataku
tertuju padanya, sambil berjalan akupun terus memandanginya. terdengar suara
seseorang berteriak yang membuyarkan perhatianku pada Dimas, dan akupun
menoleh, sebuah tiang bendera besar yang berdiri sejak lama berada tepat
dihadapanku, alhasil, tabrakkan pun tak terelakkan. kepalaku serasa bola tenis
yang terpukul dengan tongkat kayu. Kulihat tiang bendera yang aku tabrak
berguncang dengan hebatnya dan meninggalkan bunyi mendengung yang membuat
banyak orang tertuju kepadaku. Secepat kilat kututupi wajahku dengan tas dan berusaha
berlari sekencang mungkin, meninggalkan tiang yang masih berdiri pada
posisinya.
Dari kejauhan terdengar suara seseorang
memanggilku seraya menghampiriku dan bertanya, “ Duwi, kepala kamu sakit gak?”
ucapnya cemas.
“ooww, gak! Gak salah lagi! Jawabku sambil
terus memegang keningku. Sebenarnya sakitnya tuh tak seberapa, tapi malunya itu
yang membuat kepalaku jadi nyut-nyutan . apalagi Dimas juga ikut
menoleh saat tiang itu berguncang.
Ke esokan harinya giliranku untuk mengabsen
kelas-kelas lain, sampai tiba saatnya aku masuk ke kelas Dimas,akupun teringat
perkataan peri palsu, dia berkata padaku bahwa dia telah memberi tahu
perasaanku pada Dimas,saat ini kulihat dia duduk di bangku paling depan dan
akupun melewatinya.
Walau ku coba
melewatimu, kau tampak tidak tertarik
Kau justru berpaling dan asyik berbicara dengan
temanmu
Ayolah ! lihat
ke arahku !
Sampai aku keluar kelaspun dia tetap tak
melihatku. Sedih rasanya tapi mungkin dia sedang sibuk.
Dari musim Durian sampai musim Rambutan
diriku masih mengharapkannya. Akhirnya tiba saatnya untuk perpisahan. Aku terus memandangi Dimas yang menjadi bintang
acara dalam pepisahan sekolahku, dalam lamunan akhirnya ku dapat ide cemerlang,
saat acara selesai akupun memohon pada teman ku, sebut saja Si Cantik. Aku
memintanya untuk berfoto dengan Dimas, awalnya ku minta Si Cantik untuk
membawakan HP miliku dan aku berpura-pura tak sengaja lewat, itulah rencanaku.
saat aku lewat dia memanggilku dan memintaku untuk memotret mereka berdua,
akupun meminta dimas untuk tersenyum, dan dia pun tersenyum sangat manis hingga
rasanya aku tak dapat berpijak pada tanah, dan akupun memotret mereka berdua,
saat ingin pergi tiba-tiba di luar rencana teman ku mengeluarkan HP miliknya
seraya berkata “ tolong dong foto di HP ku juga” ucap Si Cantik sambil
mengeluarkan HP dari saku bajunya. Seketika wajah Dimas pun terlihat
kebingungan seakan bertanya “ lalu HP siapa yang tadi buat motret aku?”. Dengan
menahan amarah akupun memotret untuk yang kedua kali, namun saat aku bilang
untuk tersenyum terlihat jelas di wajah Dimas bahwa dia sangat kesal. Tak hanya dia yang kesal sebenarnya aku juga,
Si Cantik memang tak pandai berbohong, Rencana yang ku susun sedemikian rupa
berantakan hanya karena Si Cantik mengeluarkan HP miliknya.
Saat pulang dari perpisahaan tak
kusangka bus yang aku naiki berhenti bersebelahan dengan bus yang dinaiki oleh
Dimas, aku pun langsung menoleh ke arah bus nya , ku lihat dia sedang asyik
bercanda dengan temannya dengan wajah yang sangat bahagia, hingga saat dia
menoleh ke arah bus ku, dan melihat aku yang sedang memandanginya dengan
seketika dia pun kembali menoleh ke arah temannya dan saat itu juga tiba-tiba
gordyn penutup jendela busnya pun langsung tertutup hingga wajahnya tak dapat
ku lihat lagi.”siapa sih yang berani-beraninya mennutup gordyn itu!” ucapku
kesal, tapi setelah aku berpikir lagi mungkin Dimas lah yang menutup gordyn bus
itu. Sebenarnya ku tahu benar bahwa dia tak suka padaku, namun melihatnya
selalu takut padaku adalah hiburan tersendiri bagiku, jika dipikir –pikir aku
seperti lagu om sule,” gak punya taring, gak punya cakar, loh kok takut”
Semenjak kejadian itu aku pernah
beberapa kali bertemu dengan Dimas, namun dia selalu pergi dan lari saat
berjumpa dengan ku, hingga pernah beberapa kali aku bepikir “apakah aku sepeti
hantu?sampai dia takut saat melihatku?” tanyaku pada diri sendiri.
Pernah ada yang berkata bahwa jika kita
menyukai seseorang katakanlah sebelum kita menyesal, namun kata – kata itu tak
berlaku untukku, bagaimana bisa kita ungkapkan perasaan kita, jika melihat kita
saja orang itu sudah takut. Menurutku solusi yang tepat adalah jangan pernah
mengharapkan lebih pada seseorang, seperti kata – kata di komik
kesayanganku:
”jika
tak mengharapkan, maka tak kan merasa tersakiti”.
Itulah pilihan yang bijak bagi cinta yang tak
terbalas.